Double Degree? Why Not !!!!!

Pagi yang membosankan dengan rutinitas sekolah yang membosankan juga. Kala ku lihat buku-buku catatan pelajaran yang rasanya sama sekali nggak pernah ku tulis dikarenakan aku lebih nyaman dengan dunia organisasi dan alam bawah sadar dikala dongeng penuh rumus yang menghanyutkan yang membuat mata ini langsung terpejam walau di kelas sekalipun. Ya, sebut saja dia sebagai Mimpi, saking namanya mimpi bahkan di kelas sekalipun ia sering bermimpi.

Mimpi sedang terduduk di bangku taman, tatkala ada dering telepon dari ayahnya.
"Lagi dimana, Nak? Lagi di sekolah ya, lagi istirahat sekarang?"
"Iya Yah, gimana?"
"Gimana rencana buat masuk perguruan tinggi negeri, jadi ikut serangkaian tesnya?"
"Jadilah, harus berjuang sampai titik darah penghabisan"
"Iya udah, kan yang di swasta juga udah diterima, jadi udah ada cadangan yang jelas jangan terlalu stres karena belajar"
"Oke siap, santai, di sekolah main terus kok (sambil ketawa)"
"Tadi ayah lihat berita ada orang yang gelarnya sampai 36 gelar"
.............................................................................

Pengumuman SBMPTN dan ujian mandiri pun keluar, alhasil aku terperangkap harus masuk universitas swasta dengan jurusan yang sama sekali aku benci karena di sekolah aku selalu bermasalah sama gurunya. Sebelum masuk ke bangku perkuliahan banyak sekali teman dan kakak kelas yang bertanya tentang keyakinan ku masuk ke jurusan di universitas tersebut, dengan tegasnya aku bilang tahun depan aku coba tes buat masuk PTN kok buat ambil jurusan yang aku suka.
..............................................................................
Pagi pun beralih menjadi siang dan akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya terkait rencanaku buat ikut tes tahun depan. Orang tua mendukung setelah aku jelaskan apa yang aku mau lakukan setelah aku masuk jurusan itu dan kenapa jurusan itu penting bagiku. Tapi ada hal yang mengganjal ketika ada perbincangan terkait dana yang dikeluarkan sudah terlalu banyak dan prospek kedepannya tentang jurusan yang ku ambil sepertinya menjanjikan di daerah ku saat itu. Entah polos atau saking ambisinya buat masuk jurusan yang disukai, aku langsung nyeletuk "Kalau double degree nggak apa-apa kan?". Dan herannya cuma dapat tanggapan kalau sanggup nggak apa-apa.

Berawal dari situlah saya sebagai pemimpi menuliskan impian untuk double degree dari setelah lulus SMA. Walau nanti tidak harus di PTN sekalipun yang penting tetap double degree. Waktu itu semua mimpi hanya ku tulis dalam angan, kadang kalau ditanya sama teman dekat ya berani aja cerita dan jelasin rencananya aku sebagai pemimpi. Dan tanggapannya selalu saja apakah bisa dan apakah sanggup? Tidak ada jawaban lain! Tapi bukan Mimpi jika aku langsung menyerah begitu saja, walau kadang jujur sambil berjalan selalu merasa apa iya aku bisa ambil double degree? Waktu Ayah cerita tentang orang yang bisa dapat gelar 36 disitu aku sebagai anak mencoba bertanya.
"Misal ni Yah, Mimpi mau ambil double degree menurut Ayah, Mimpi sanggup apa tidak"
"Semua itu nggak ada yang nggak mungkin, tinggal kamunya, kamu percaya nggak sama diri kamu sendiri?"
"Percaya, tapi kalau dihujat orang gimana?"
"Ngapain didengerin, selagi kamu tau kamu kedepannya mau ngapain dan kamu bisa berbuat banyak untuk orang lain dengan langkah kamu ini, ngapain mikirin orang lain"
...............................................................................
Mimpi akhirnya sadar dan paham ia akan bagaimana dengan langkahnya. Dia mencari alasan untuk apa dia bisa ambil double degree. Salah satu alasan terkuat adalah dia hanya ingin akan ada anak-anak yang menjadi adek kelasnya saat ini termotivasi untuk kuliah dan berani mengejar mimpinya, bukan takut karena masalah ekonomi dan hambatan lainnya. Mimpi terlalu sedih ketika mendengar teman-temannya bahkan adek kelasnya tidak sekolah dan lebih memilih menikah dengan alasan untuk mengurangi biaya dan sudah pasrah bahwa ia tidak bisa mengejar mimpinya. Iya, Mimpi ingin mengambil double degree bukan hanya sebagai wadah ia untuk belajar lebih banyak dan menchallange diri dengan tantangan baru, tetapi ia juga berharap nantinya di masyarakat sekitarnya ia bisa menjadi motivasi tanpa cakap dan omong kosong saja supaya akan banyak pemimpi lain yang berani mewujudkan mimpinya walau itu awalnya hanya tulisan kertas dan angan mimpi yang hanya tiap hari mampu diucapkan. Karena saat ini yang Mimpi alami pun awalnya hanya dari mimpi di tulisan kertas. Maka masih adakah alasan takut untuk bermimpi??
.............................................................................




Comments